Depok | Starindonews.com – Isra Mi’raj merupakan peristiwa luar biasa dalam sejarah Islam yang menggambarkan dua perjalanan suci Nabi Muhammad SAW dalam satu malam: Isra (perjalanan malam) dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem, dan Miraj (kenaikan) dari Masjidil Aqsa naik ke langit ketujuh hingga Sidratul Muntaha untuk menerima perintah salat lima waktu langsung dari Allah SWT. Peristiwa ini adalah mukjizat besar yang menunjukkan kebesaran Allah dan menjadi fondasi utama kewajiban salat bagi umat Islam.
Ketua DPC Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kota Depok, Mazhab HM, menyampaikan bahwa Isra Mi’raj merupakan momentum untuk menata ulang cara pandang terhadap jabatan dan tanggung jawab sosial. Menurutnya, Rasulullah SAW telah memberikan teladan bahwa kepemimpinan bukan sarana memperbesar kekuasaan, melainkan jalan pengabdian yang menuntut kejujuran dan integritas, Jum’at (16/01/2026).
“Isra Mi’raj mengajarkan bahwa amanah adalah beban moral. Jabatan, sekecil apa pun, harus dijalankan dengan akhlak mulia dan rasa tanggung jawab,” kata Mazhab HM.
Ia menjelaskan bahwa pesan amanah dalam Isra Mi’raj bersifat universal dan menyentuh seluruh lapisan masyarakat.
Tidak hanya pemimpin formal, tetapi juga setiap individu yang memegang peran dalam keluarga, lingkungan, maupun profesi masing-masing.
Mazhab HM mengingatkan firman Allah SWT dalam Surah An-Nisa ayat 58 yang menegaskan perintah untuk menunaikan amanah dan menegakkan keadilan. Ayat ini, menurutnya, menjadi fondasi etika yang menuntun umat Islam dalam membangun kepemimpinan yang berkeadaban dan kehidupan sosial yang seimbang.
Ia juga mengutip hadis Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa setiap manusia adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Hadis tersebut, kata dia, memperkuat pesan bahwa akhlakul karimah merupakan syarat utama dalam menjalankan amanah.
“Ketika amanah dijalankan tanpa akhlak, maka yang muncul adalah ketidakadilan. Sebaliknya, jika akhlakul karimah menjadi dasar, maka kepercayaan dan ketertiban akan tumbuh,” ujarnya.
Dalam konteks kehidupan saat ini, Mazhab HM menilai pesan Isra Mi’raj semakin relevan. Berbagai persoalan sosial, menurutnya, sering kali berakar dari lunturnya kesadaran moral dan lemahnya rasa tanggung jawab terhadap amanah yang diemban.
Ia menekankan bahwa akhlakul karimah tidak selalu diwujudkan melalui kebijakan besar, tetapi melalui sikap sehari-hari, seperti kejujuran, disiplin, menepati janji, dan kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai sederhana tersebut merupakan inti dari ajaran Rasulullah SAW.
Mazhab HM mengajak masyarakat menjadikan peringatan Isra Mi’raj sebagai ruang muhasabah bersama. Refleksi diri, menurutnya, penting agar setiap orang dapat menilai kembali apakah amanah yang diemban telah dijalankan dengan benar dan penuh tanggung jawab.
“Isra Mi’raj bukan hanya peristiwa untuk dikenang, tetapi jalan untuk memperbaiki diri. Dari muhasabah inilah perubahan akan lahir,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya menanamkan nilai amanah dan akhlakul karimah kepada generasi muda. Pendidikan karakter berbasis keteladanan Rasulullah SAW dinilai menjadi bekal penting dalam membentuk pribadi yang jujur, bertanggung jawab, dan peduli terhadap kepentingan bersama.
Melalui peringatan Isra Mi’raj, Mazhab HM berharap nilai-nilai keislaman dapat semakin membumi dalam kehidupan sosial. Keteladanan Rasulullah SAW, menurutnya, harus terus dihidupkan agar kepemimpinan dan masyarakat berjalan seiring dalam bingkai moral dan etika.
“Jika amanah dijaga dan akhlakul karimah dijunjung bersama, Insya Allah kehidupan sosial akan lebih adil, harmonis, dan penuh keberkahan. Inilah makna menapaki Isra Mi’raj dalam kehidupan nyata,” pungkasnya. (YB)











