Aceh Timur -Starindonwes.com;Senin 22 Desember 2025.Ketua Jajaran Wartawan Indonesia (JWI) Aceh Timur, Hendrika Saputra, A.Md, dengan tegas meminta pemerintah pusat, Pemerintah Aceh, dan Pemerintah Kabupaten Aceh Timur untuk menghentikan total penanaman kelapa sawit di Aceh, khususnya di kawasan hutan dan Ekosistem Leuser.
Menurut Hendrika, bencana alam yang terus berulang di Aceh bukan lagi semata-mata takdir, melainkan akibat langsung dari keserakahan manusia, terutama dari perluasan perkebunan kelapa sawit yang merampas dan menggunduli hutan.
“Banjir, longsor, dan kerusakan lingkungan yang terjadi hari ini adalah buah dari kebijakan yang membiarkan hutan dihancurkan demi sawit. Ini bukan musibah alam, ini bencana ekologis buatan manusia,” tegas Hendrika, Senin (22/12/2025).
Ia menjelaskan, hutan yang seharusnya menjadi benteng alami penahan bencana justru ditebang tanpa ampun. Akar-akar pohon yang berfungsi menahan air dicabut, tanah dibiarkan telanjang, sungai menyempit dan dangkal. Akibatnya, ketika hujan turun, air tidak lagi terserap dan banjir pun mengganas.
“Yang jadi korban bukan perusahaan, tapi rakyat kecil. Rumah hanyut, sawah rusak, anak-anak kehilangan masa depan,” ujarnya.
Ironisnya, lanjut Hendrika, alat berat dan excavator justru masuk saat luka korban bencana belum kering. Di tengah tangisan masyarakat terdampak banjir, pembukaan lahan sawit terus berlangsung.
“Ini bukan pembangunan. Ini kejahatan lingkungan. Ini pembunuhan masa depan,” katanya keras.
Sawit Dibungkus Dalih Ekonomi, Rakyat Menanggung Bencana
Hendrika menilai sawit kerap dibungkus dengan dalih pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja. Namun pada kenyataannya, keuntungan hanya dinikmati segelintir korporasi, sementara rakyat diwarisi banjir, longsor, penyakit, dan kemiskinan ekologis.
“Untuk siapa sebenarnya sawit ini? Kalau rakyat hanya kebagian bencana, maka ini jelas ketidakadilan ekologis,” ujarnya.
Ia menegaskan, hutan bukan warisan dari nenek moyang, melainkan titipan untuk generasi masa depan. Jika hutan terus dikorbankan demi sawit, maka bencana akan menjadi warisan pahit bagi anak cucu Aceh.
Manfaat Vital Hutan Leuser yang Terancam
Hendrika mengingatkan bahwa Ekosistem Leuser memiliki peran vital bagi Aceh, Sumatera Utara, dan dunia internasional.
Manfaat Hutan Leuser antara lain:
Penyangga kehidupan jutaan manusia sebagai sumber air utama
Benteng alami bencana seperti banjir bandang, longsor, abrasi, dan krisis air bersih
Rumah satwa langka dunia: orangutan Sumatra, harimau Sumatra, gajah Sumatra, dan badak Sumatra
Penjaga iklim global, penyerap karbon, penghasil oksigen
Penopang ekonomi berkelanjutan melalui pertanian rakyat, perikanan, ekowisata, dan hasil hutan non-kayu
Pelindung masyarakat adat dan budaya Aceh
“Leuser adalah aset dunia. Kalau rusak hari ini, butuh ratusan tahun untuk pulih, bahkan bisa hilang selamanya,” tegasnya.
Sawit = Bom Waktu Bencana
Ketua JWI Aceh Timur menegaskan, sawit bukan tanaman hutan. Menanam sawit di kawasan hutan sama artinya dengan mengganti benteng alam dengan bom waktu bencana.
Dampak nyata sawit di Aceh, menurutnya, meliputi:
Hilangnya fungsi resapan air dan banjir besar
Rusaknya habitat satwa liar dan meningkatnya konflik gajah serta harimau Mengeringnya tanah dan sungai
Ketimpangan ekonomi antara korporasi dan rakyat
Bencana ekologis berkepanjangan bagi generasi mendatang
Desakan Tegas ke Pemerintah
Hendrika secara terbuka mendesak pemerintah pusat,
Pemerintah Aceh, dan Pemerintah Aceh Timur untuk:
Menghentikan penanaman dan perluasan sawit
Mencabut izin perusahaan perusak hutan
Menyelamatkan Ekosistem Leuser
Menegakkan hukum tanpa kompromi
“Stop perluasan sawit. Pulihkan hutan. Lindungi alam.
Karena ketika hutan mati, bencana hidup,” pungkas Hendrika Saputra, A.Md.(Bacee)





