Berita

LPM Cipayung Ramaikan Lebaran Depok ke- 27 Lewat Tradisi Ngaduk Dodol

32
×

LPM Cipayung Ramaikan Lebaran Depok ke- 27 Lewat Tradisi Ngaduk Dodol

Sebarkan artikel ini
Ruslan Ulya, Ketua LPM Cipayung, ikut partisipasi ngaduk dodol acara Lebaran Depok (Foto: Starindonews/Yudi Bahtiar)
Ruslan Ulya, Ketua LPM Cipayung, ikut partisipasi ngaduk dodol acara Lebaran Depok (Foto: Starindonews/Yudi Bahtiar)

DEPOK | Starindonews.com – Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Cipayung turut memeriahkan suasana Lebaran di Depok dengan berpartisipasi langsung dalam tradisi ngaduk dodol bersama warga. Kegiatan yang berlangsung di Danau Permata Depok, menjadi salah satu bentuk pelestarian budaya sekaligus mempererat silaturahmi antar masyarakat, Selasa (05/05/2026).

Sejak pagi, warga Cipayung dan sekitarnya sudah berkumpul membawa peralatan masak besar. LPM Cipayung ikut terjun langsung membantu proses pengadukan dodol yang membutuhkan tenaga dan kekompakan.

“Ngaduk dodol ini bukan cuma soal bikin makanan, tapi juga simbol gotong royong dan kebersamaan warga saat Lebaran,” ujar Ketua LPM Cipayung di sela kegiatan.

Proses ngaduk dodol berlangsung berjam-jam dengan api kecil dan adonan yang harus terus diaduk agar tidak gosong. Sambil mengaduk, warga saling berbincang, bertukar cerita, dan saling memaafkan dalam suasana khas Lebaran. Tradisi ini sudah lama menjadi ciri khas Lebaran di Depok, khususnya di wilayah Cipayung.

Ketua LPM Cipayung menyebut keterlibatan lembaganya sebagai upaya menjaga warisan budaya Betawi yang ada di Depok.

“Kami ingin tradisi ini terus hidup. Anak muda juga harus tahu kalau Lebaran itu bukan cuma ketupat, tapi ada nilai kebersamaan yang kita jaga lewat dodol,” katanya.

Antusiasme warga terlihat tinggi. Banyak keluarga yang datang bersama anak-anak untuk menyaksikan sekaligus belajar cara membuat dodol. Hasil dodol nantinya dibagikan ke warga dan digunakan untuk menjamu tamu saat Halalbihal.

Partisipasi LPM Cipayung dalam ngaduk dodol ini menambah semarak perayaan Lebaran Depok, sekaligus menunjukkan bahwa budaya lokal masih relevan dan terus dihidupkan oleh masyarakat.(YB)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *