Harga emas global kembali melanjutkan tren penguatan pada perdagangan hari Kamis, 2 April 2026, mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap aset safe haven di tengah dinamika geopolitik dan pergerakan dolar Amerika Serikat yang melemah. Berdasarkan analisis Dupoin Futures yang disampaikan oleh Andy Nugraha, pergerakan emas (XAU/USD) saat ini menunjukkan tren bullish yang semakin kuat dalam jangka pendek, khususnya pada timeframe H1. Sinyal teknikal yang terbentuk mengindikasikan bahwa momentum kenaikan masih cukup solid untuk menopang pergerakan harga ke level yang lebih tinggi.
Pada sesi perdagangan terakhir, emas berhasil mencatat kenaikan untuk hari keempat secara berturut-turut dan sempat menyentuh level tertinggi dalam dua pekan di kisaran 4.800 dolar AS. Meski kemudian mengalami sedikit koreksi, harga tetap bertahan di sekitar 4.758 dolar AS, atau menguat hampir 2% dibandingkan sesi sebelumnya. Kinerja ini menunjukkan bahwa pasar masih merespons positif perkembangan global, terutama terkait meredanya ketegangan di Timur Tengah yang selama ini menjadi salah satu pemicu volatilitas.
Dari sisi teknikal, Andy Nugraha menjelaskan bahwa kombinasi pola candlestick yang mengarah naik serta posisi harga yang bergerak di atas indikator Moving Average memperkuat indikasi tren bullish. Struktur pergerakan harga yang terbentuk menunjukkan dominasi tekanan beli, yang mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek emas dalam jangka pendek. Selama tidak ada perubahan signifikan dalam sentimen pasar, tren ini diperkirakan masih akan berlanjut.
Dalam proyeksi pergerakan harian, Dupoin Futures memperkirakan bahwa harga emas berpotensi melanjutkan kenaikan hingga mendekati level resistance di 4.789 dolar AS apabila momentum bullish tetap terjaga. Namun, potensi koreksi tetap perlu diantisipasi, terutama jika terjadi aksi ambil untung atau perubahan sentimen global. Dalam skenario tersebut, level support terdekat diperkirakan berada di sekitar 4.539 dolar AS, yang dapat menjadi titik penahan penurunan harga.
Secara fundamental, penguatan emas tidak terlepas dari pelemahan dolar AS yang terjadi seiring meningkatnya ekspektasi bahwa konflik antara Amerika Serikat dan Iran akan mereda. Pernyataan Presiden AS yang membuka peluang penarikan pasukan dalam beberapa pekan ke depan memberikan sinyal positif bagi pasar. Meskipun demikian, ketidakpastian masih membayangi setelah adanya perbedaan pernyataan antara pihak AS dan Iran terkait kemungkinan gencatan senjata.
Selain faktor geopolitik, lonjakan harga energi global turut memengaruhi pergerakan pasar dengan meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi. Kondisi ini mendorong pelaku pasar untuk menyesuaikan kembali ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga, khususnya di Amerika Serikat. Federal Reserve diketahui masih mempertahankan suku bunga acuannya pada kisaran 3,50% hingga 3,75%, dengan prospek pemangkasan suku bunga yang semakin terbatas. Lingkungan suku bunga tinggi cenderung menjadi faktor penahan bagi kenaikan emas karena logam mulia ini tidak memberikan imbal hasil bunga.
Di sisi lain, pelaku pasar juga menantikan rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat dalam waktu dekat, seperti klaim pengangguran mingguan dan laporan Non-Farm Payrolls. Data tersebut akan menjadi indikator penting dalam menilai kondisi ekonomi AS. Jika hasil yang dirilis menunjukkan pelemahan, maka hal ini berpotensi menekan dolar AS lebih lanjut dan memberikan ruang tambahan bagi harga emas untuk menguat.
Dengan mempertimbangkan faktor teknikal dan fundamental yang ada, harga emas diperkirakan akan tetap bergerak dalam tren positif meskipun disertai volatilitas yang tinggi. Investor diharapkan tetap waspada terhadap perkembangan global yang dapat memengaruhi arah pasar, termasuk dinamika geopolitik dan kebijakan moneter. Dalam kondisi ketidakpastian seperti saat ini, emas masih menjadi salah satu instrumen yang relevan sebagai lindung nilai sekaligus peluang investasi.
Press Release juga sudah tayang di VRITIMES












